Jurnal
Praktikum Kimia Organik I Percobaan Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik
Leleh
JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
Percobaan Kalibrasi Termometer dan
Penentuan Titik Leleh
DISUSUN OLEH
MARTA FEBRYZA MANALU RAMBE
A1C118037
DOSEN PENGAMPU
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKA KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
Percobaan 2
I.
Judul :
Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh
II.
Hari, Tanggal :
Rabu, 12 Februari 2020
III.
Tujuan :
Adapun
tujuan dari praktikum ini adalah
1.
Dapat memahami prnsip – prinsip dasar dalam
penentuan titik leleh senyawa murni.
2.
Dapat melakukan kalibrasi thermometer sebelum
digunakan untuk penentuan titik leleh suatu senyawa murni.
3.
Dapat membedakan titik leleh suatu senyawa murni
dengan senyawa yang tidak murni.
4.
Dapat melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa
murni yang diberikan sebagai sampel.
IV.
Landasan Teori
Kalibrasi Termometer
Termometer harus diteliti ketepatannya sebelum
digunakan sebagai alat untuk pengukur suhu karena hasilnya sangat menentukan
hasil untuk meninjaklanjuti langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh
praktikan dalam pekerjaan lab. Oleh karena itu, thermometer harus dikalibrasi
dengan benar supaya hasilnya akurat.
Penentuan Titik Leleh
Pada suhu tertentu suatu zat mengalami perubahan
fasa dari padat menjadi gas yang dimana keadaan ini dinamakan titik leleh. Pada
saat zat mulai meleleh, zat tersebut mengalami perubahan suhu sampai zat
tersebut benar- benar sudah meleleh, perubahan suhu tersebut menunjukkan
perbedaan kemurnian suatu zat. Saat perbedaan suhu tersebut semakin tinggi maka
kemurnian zat tersebut rendah juga sebaliknya (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/).
Gaya gravitasi dan gaya elektrostatik
mengikat molekul dalam zat padat yang berbentuk kisi teratur. Energi kinetic
yang dimiliki oleh zat tersebut akan naik jika zat padat dipanaskan yang
membuat bergetarnya molekul sehingga disaat kondisi suhu tertentu ikatan
molekulnya akan terlepas yang menyebabkan melelehnya zat padat (Tim Kimia
Organik I,2020).
Suatu benda mempunyai derajat panas yang berbeda-
beda, dimana panas tersebut dapat diketahui oleh sebuah suhu. Semakin rendah
panas sebuah benda maka suhunya semakin kecil dan sebaliknya. Suhu dapat diukur
menggunakan thermometer (Kanginan,2007).
Saat suatu zat pada fase cair dan padat dalam sebuah
suhu yang setimbang dinamakan titik leleh. Jika zat tersebut diganggu dengan
menambahkan atau mengurangi energy maka zat tersebut akan timpang ke zat padat
atau ke zat cair (Chang,2004).
Ketika suatu zat dalam keadaan suhu padatannya dan
cairnya setimbang maka padatan tersebut sedang dalam keadaan normal titik
lelehnya. Keadaan tersebut tekanannya dibawah 1 atm. Pada es titik leleh normal
0,00
. Jika suhu tersebut turun maka
air tersebut mengalami perubahan menjadi beku (David,2010)
V.
Alat dan Bahan
5.1 Adapun
alat yang digunakan adalah
1.
Labu Erlenmeyer 250 ml
2.
Termometer
3.
Pipa gelas kapiler
4.
Stick
5.
Alat pemanasan
6.
Melting Point Apparatus (MPA)
6.2 Adapun
bahan yang digunakan adalah
1.
Bubuk es
2.
Air
3.
Gabus
4.
Benang
5.
Minyak
6.
Naftalen
7.
Glukosa
8.
Alpha-naftol
9.
Asam benzoate
10. Maltosa
11. Milimeter
blok
VI.
Prosedur Kerja
6.1
Kalibrasi Termometer
a.
Buat campuran bubuk es dan air dalam labu erlenmeyer
250 ml sehingga 2/5 bagian volumenya terisi.
b.
Dimasukkan thermometer hingga ujungnya menyentuh
campuran es + air, sumbatlah mulut labu Erlenmeyer tersebut dengan gabus,
sehingga campuran tersebut terisolasi dari dalam dan luar.
c.
Dicatat batas bawah skala thermometer tersebut(0).
d.
Diangkat thermometer dan ulangi lagi prosedur a – c
tersebut.
e.
Rancang kembali alat dengan mengisi 2/5 bagian
Erlenmeyer dengan aquades.
f.
Dimasukkan thermometer hingga tepat 1 cm di atas
permukaan air , sumbat dan usahakan thermometer berada pada posisi tegak.
g.
Dilakukan pemanasan dan catat suhu saat air mulai
mendidih dan suhu tidak naik- naik lagi (konstan ).
h.
Ulangi prosedur c – g sekali lagi.
6.2 Penetuan Titik Leleh
a. Diambil pipa gelas kapiler lalu
dibakar ujungnya sehingga tertutup.
b. Dimasukkan sampel zat murni
atau campuran dari ujung lainnya. Lalu padatkan dengan bantuan stick yang berlobang
tengahnya.
c. Pipa kapiler yang berisi sampel
diikat dengan thermometer menggunakan benang.
d. Dimasukkan alat tersebut ke
dalam Erlenmeyer yang telah diisi air atau minyak denga mengisi 2/3 erlenmeyer
dan sumbat dengan gabus mulut Erlenmeyer.
e. Dipanaskan perangkat perangkat
alat ini secara perlahan dan catat suhu saat tepat zat meleleh hingga semua zat
meleleh.
f. Dilakukan prosedur a-e sebanyak
dua kali untuk tiap sampel yang diberikan. Sampel murni terdiri dari naftalen,
glukosa, alpha-naftol, asam benzoat dan maltose.
g. Dengan cara yang sama tentukan
titik leleh campuran dua senyawa dengan proporsi 1:1, 1:3, 3:1. Gambarkan titik
autentik yang diperoleh. Untuk hasil yang baik, gambarkan titik autentik pada
kertas millimeter blok.
6.3 Demonstrasi Titik Leleh dengan
MPA (Melting Point Apparatus)
a. Ditempatkan sampel yang akan ditentukan titik lelehnya pada gelas kapiler setebal lebih kurang 2 mm. Pipa kapiler ini ditempatkan pada bagian atas. Terdapat 3 lubang berdiameter 3 mm, lubang tengah untuk pipa kapiler yang berisi sampel dan dua lubang lain diisi dengan pipa kapiler kosong (blanko).
b. Dihubungkan alat tersebut dengan tombol listrik dan di on-kan. Variable suhu dapat diatur dengan kecepatan tertentu.
c. Dilakukan pengamatan di sisi depan alat.
d. Diperhatikan variable suhu saat zat mulai meleleh.
a. Ditempatkan sampel yang akan ditentukan titik lelehnya pada gelas kapiler setebal lebih kurang 2 mm. Pipa kapiler ini ditempatkan pada bagian atas. Terdapat 3 lubang berdiameter 3 mm, lubang tengah untuk pipa kapiler yang berisi sampel dan dua lubang lain diisi dengan pipa kapiler kosong (blanko).
b. Dihubungkan alat tersebut dengan tombol listrik dan di on-kan. Variable suhu dapat diatur dengan kecepatan tertentu.
c. Dilakukan pengamatan di sisi depan alat.
d. Diperhatikan variable suhu saat zat mulai meleleh.
Link Video :
Pertanyaan
1.
Apa kegunaan paraffin dalam praktikum tersebut?
2.
Mengapa sampel tersebut harus berada pada bagian
bawah kapiler?
3.
Mengapa pada
saat pemanasan harus dilakukan pengadukan pada sampel?

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
DeleteSaya Diana Sari (A1C118096), akan mencoba menjawab pertannyaan no 1. Paraffin dapat digunakan sebagai pelarut dan juga tidak mudah bereaksi dengan senyawa asam maupun basa. Terimakasih, semoga membantu.
ReplyDeleteassalamu'alaikum wr.wb,, hy marta selamat malam
ReplyDeleteperkenalkan saya DARA KUMALASARI
NIM : A1C118038
akan mencoba menjawab pertanyaan no 2 sebelumnya sampel kita harus padat kan dengan memukul ujung pipa yang tertutup sehingga sampel pindah ke dasar ujung pipa kapiler karena jika tidak dipadatkan dapat menyebabkan terhambatnya pelelehan sampel yang disebabkan karena adanya renggangan yang berpotensi menyimpan udara . udara dapat mempengaruhi reaksi yang akan terjadi. jika hal ini terjadi maka hasil yang didapatkan salah ataupun tidak sesuai.
sekian dan terimakasih marta,,
Hallo marta, saya dwi kartini nim A1C118058. Saya akan mencoba membantu menjawab pertanyaan marta nomer tiga. Menurut saya pengadukan disini dilakukan agar suhu pada zat tetap konstan . Terimakasuh
ReplyDelete