Jurnal Praktikum Kimia Organik I Pemurnian Zat Padat

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
Pemurnian Zat Padat
DISUSUN OLEH
MARTA FEBRYZA MANALU RAMBE
A1C118037

DOSEN PENGAMPU
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKA KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 

UNIVERSITAS JAMBI

2020
Percobaan 3
I.                   Judul                     : Pemurnian Zat Padat Organik
II.                Hari, tanggal         : Rabu, 26 Februaru 2000
III.             Tujuan                   :

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :

1.      Dapat melakukan kristalisasi dengan baik
2.      Dapat memilih pelarut sesuai untuk rekristalisasi
3.      Dapat menjernihkan dan menghilangkan warna larutan
4.      Dapat memisahkan dan memurnikan campuran dengan rekristalisasi

IV.             Landasan Teori

Pendekatan dan juga teknik sangat amat dibutuhkan dalam kasus memurnikan suatu zat yang berbentuk padatan. Zat padat tersebut yang dimurnikan dapat dikenali dengan proses pengidentifikasian dan juga pendekatan praktis dengan memperhatikan sifat fisik dan sifat kimianya. Proses pengidentifikasian sangat menentukan keberhasilan suatu pemisahan zat padat dan kelarutannya. Dalam praktikum, praktikan dituntut harus mengetahui dan mengenali sifat dan jenis pelarut. Teruata saat mencampurkan beberapa pelarut untuk melarutkan zat yang berbentuk padatan. Dalam memurnikan suatu zat ada beberapa perlakuan atau teknik yang dapat dilakukan seperti sublimasi, kristalisasi dan juga khromatografi. Untuk memilih teknik manan yang akan digunakan dalam pemurnian suatu zat itu tergantung oleh sifat dan juga kemurnian suatu zat yang kita gunakan (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/).

Teknik memurnikan suatu zat dalam bentuk padatan dari zat yang mengotorinya dinamakan rekristalisasi. Rekristalisasi ini merupakan proses yang membentuk zat padat kembali dalam wujud Kristal setelah zat tersebut dilarutkan dengan pelarut.  Pada saat rekristalisasi jumlah zat pengotor biasanya lebih sedikit dari zat yang ingin dimurnikan (Anita,2011).

Dalam suatu larutan dimana pelarut dan zat terlarut dalam kondisi sudah lewat jenuh, akan  terbentuk suatu Kristal. Pada kondisi ini zat terlarut sudah tidak dapat dilarutkan oleh pelarutnya. Hal ini disebabkan karena jumlah pelarut lebih sedikit daripada jumlah zat terlarutnya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi pelarut dalam suatu larutan, seperti penguapan, reaksi kimia, penambahan senyawa lain, pendinginan (Sastrohamidjojo,2005).

Pelarut yang digunakan dalam pemurnian zat harus memenuhi syaratnya sehingga perbedaan yang dihasilkan dapat terlihat. Salah satu syaratnya, pelarut harus mempunyai daya larut yang cukup besar. Proses yang pertama kali dilakukan adalah memisahkan satu sama lain larutan yang terbentuk dan menjenuhkan larutan tersebut (Rositawati,2013).

Laju pembentukan inti dan laju pembentukan Kristal merupakan salah satu contoh factor yang mempengaruhi bentuk dan ukuran Kristal dalam proses kristalisasi. Bila laju pembentukan inti dan pembentukan Kristal rendah maka akan semakin sedikit Kristal yang terbentuk (Svehla,2012).

V.                Alat dan Bahan

5.1  Alat
1.      Gelas kimia 100 ml
2.      Bunsen
3.       Kaki tiga
4.      Corong Buchner
5.      Cawan penguap

5.2  Bahan
1.      Air Suling
2.      Asam Benzoat
3.      Es Batu
4.      Naftalena
5.      Kertas Saring
6.      Gelas Wool
7.      Kapas

VI.             Prosedur Kerja

6.1  Prosedur Percobaan Rekristalisasi
a.       Dituangkan 50 ml air suling ke dalam gelas kimia 100 ml, dipanaskan hingga timbul gelembung-gelembung.
b.      Dimasukkan 0,5 gram asam benzoate tercemar ke dalam gelas kimia 100 ml yang lain. Ditambahkan air panas tersebut sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga larut semua.
c.       Disaring campuran dengan menggunakan corong Buchner dan tamping filtratnya ke dalam gelas kimia. Disiram endapan yang tertinggal dengan air panas. Jenuhkan lalu didinginkan hingga terbentuk Kristal jika tidak terbentuk dinginkan dalam es.
d.      Dengan corong Buchner saring Kristal lalu dikeringkan.
e.       Diuji titik leleh dan bentuk kristalnya, lalu bandingkan dengan data yang ada dalam handbook.
6.2  Sublimasi
a.       Dimasukkan 1-2 gram naftalen tercemari ke dalam cawan penguap.
b.      Ditutup permukaan cawan penguap dengan kertas saring yang telah dibuat lobang-lobang kecil.
c.       Disumbat corong dengan gelas wool atau kapas seperti pada gambar.
d.      Diletakkan cawan tersebut di atas kasa dari pembakar, nyalakan api dan panaskan dengan nyala api kecil.
e.       Dihentikan pembakaran setelah semua zat yang akan disublimasikan habis (+- 5 menit).
f.       Dikumpulkan zat yang ada pada kertas saring dan corong bila ada, diuji titik leleh dan bentuk kristalnya , cocokkan dengan data hand book.
VII.          Pertanyaan Pra Praktek
1.      Mengapa pada percobaan tersebut hotplate harus dipanaskan?
2.      Mengapa pada es batu harus ditambahkan air?
3.      Mengapa kapur barus tersebut harus dihaluskan terlebih dahulu?

Comments

  1. Assalamualaikum wr.wb. Saya Hesti Nurmelis dengan NIM A1C118090 akan menjawab pertanyaan no 3. Fungsi dari dihaluskannya kapur barus terlebih dahulu agar mudah untuk kapur barus menyublim yaitu berubah dari zat padat ke gas. Yang kemudian akan berubah menjadi kristal karena pemanasan dan juga pendinginan yang dilakukan. Jika kapur barus nya tidak dihaluskan maka untuk menyublim pun kapur barus akan lama. Terimakasih

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum wr wb, saya Fadillah Fatma dengan NIM A1C118092 ingin membantu menjawab permasalahan nomor 1. Alasan kenapa Hotplate dipanaskan pada percobaan itu adalah karena fungsi dari hotplate sendiri adalah untuk memanaskan suatu campuran atau sampel dan didalam percobaan ini kita membutuhkan suatu alat untuk memanaskan campuran kapur barus dengan pasir supaya dapat menjalani reaksi sublimasi. Oleh karena hal itu, hotplate dipanaskan karena fungsinya yang memang untuk memanaskan suatu campuran/sampel. Semoga dapat membantu, terimakasih.

    ReplyDelete
  3. Saya Ryan Willianto (A1C118019) akan menjawab permasalahan yang timbul nomor 2. tujuan diberikan air pada es batu adalah agar suhu dingin pada es dapat berkontak langsung dengan Erlenmeyer yang berisi larutan campuran untuk proses rekristalisasi. sekian, semoga bermanfaat

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog