Laporan Praktikum Kimia Organik 1 Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh.

LAPORAN PRAKTIKUM  KIMIA ORGANIK I
(Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh)

DISUSUN OLEH:
MARTA FEBRYZA MANALU RAMBE
 A1C118037

DOSEN PENGAMPU :
 Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020
VII. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah
1.      Praktikan dapat memahami dan terampil dalam prinsip-prinsip dasar dalam penentuan titik leleh.
2.      Praktikan dapat memahami dan terampil dalam melakukan kalibrasi thermometer sebelum digunakan untuk penentuan titik leleh suatu senyawa murni.
3.      Praktikan dapat memahami dan terampil dalam membedakan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa yang tidak murni.
4.      Praktikan dapat memahami dan terampil dalam melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel.

VII. Prosedur Kerja

IX. Data pengamatan
9. 1 Kalibrasi Termometer
Perlakuan
Hasil
Kalibrasi dengan Es batu + air
Suhu mencapai 0
Kalibrasi dengan pemanasan
Suhu mencapai 100

9.2 Penentuan Titik Leleh
a. Sampel Murni

Nama senyawa
Pelarut
Suhu Tepat Meleleh
Suhu Meleleh Semua
Naftalen
Minyak
78
84
Glukosa
Minyak
120
140
Beta-Naftol
Minyak
105
115
Asam Benzoat
Minyak
98
150
Maltosa
Minyak
105
107

b. Senyawa Campuran

Nama Senyawa
Perbandingan
Tepat Meleleh
Meleleh Semua
Naftalen : Glukosa
1:1
100
148
Naftalen : Glukosa
1:3
148
155
Naftalen : Glukosa
3:1
130
146

Nama Senyawa
Perbandingan
Tepat Meleleh
Meleleh Semua
Glukosa : Beta-Naftol
1:1
130
140
Glukosa : Beta-Naftol
1:3
146
150
Glukosa : Beta-Naftol
3:1
138
149


Nama Senyawa
Perbandingan
Tepat Meleleh
Meleleh Semua
Beta-Naftol : Asam Benzoat
1:1
88
92
Beta-Naftol : Asam Benzoat
1:3
90
103
Beta-Naftol : Asam Benzoat
3:1
85
120

Nama Senyawa
Perbandingan
Tepat Meleleh
Meleleh Semua
Asam Benzoat : Maltosa
1:1
110
120
Asam Benzoat : Maltosa
1:3
100
155
Asam Benzoat : Maltosa
3:1
97
135

Nama Senyawa
Perbandingan
Tepat Meleleh
Meleleh Semua
Maltosa : Naftalen
1:1
120
122
Maltosa : Naftalen
1:3
110
114
Maltosa : Naftalen
3:1
113
115

9. 3 Demonstrasi Titik Leleh dengan MPA (Melting Point Apparatus)

Nama Senyawa
Tepat Meleleh  (celcius)
Meleleh Semua
(celcius)
Naftalen
85
100
Glukosa
160,72
180
Beta-Naftol
110
115
Asam Benzoat
115
120
Maltosa
90
102

X. Pembahasan

10.1 Kalibrasi Termometer
Sebelum digunakan, termometer harus diketahui kebenaran atau keakuratannya dalam mengukur suhu. Karena jika kita tidak tahu apakah termometer itu tepat atau tidak akan berpengaruh pada hasil yang tidak jelas. Maka dari itu termometer sangatlah penting untuk dikalibrasi supaya mendapatkan hasil yang akurat (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/).
Pada percobaan ini praktikan melakukan pengkalibrasian thermometer. Dimana pada labu Erlenmeyer 250 ml diisi dengan campuran es batu dan juga air sehingga 2/5 bagian volumenya terisi dengan campuran tersebut. Pada Labu Erlenmeyer dimasukkan thermometer yang ujungnya mengenai campuran es+ air. Lalu labu Erlenmeyer tersebut disumbat dengan gabus sterofoam supaya campuran tidak terganggu dengan apapun atau dalam arti labu Erlenmeyer yang berisi campuran tersebut terisolasi.  Setelah itu dicatat suhu konstannya. Yaitu pada saat suhu tidak turun lagi. Dan pada praktikum ini didapatkan suhu 0.
Selanjutnya diangkat thermometer lalu praktikan melakukan pengulangan pada perakitan thermometer dalam labu Erlenmeyer sama seperti percobaan sebelumnya. Dan setelah siap untuk digunakan maka praktikan melakukan pemanasan. Saat air sudah mulai mendidih praktikan mencatat suhunya dan juga saat suhu yang didapatkan sudah konstan.Pada percobaan ini didapatkan suhu mendidih konstannya adalah 100 Tujuan dilakukannya pengkalibrasian ini adalah untuk mengetahui kebenaran ukuran suhu dari thermometer dengan membandingkan terhadap standar ukur. Jadi kita dapat mengetahui kebanaran pengukuran suhu tersebut.

10.2 Penentuan Titik Leleh
            a.  Sampel Murni
Pada percobaan ini pertama-tama disiapkan pipa gelas kapiler dimana salah satu ujungnya dibakar sampai tertutup. Lalu dimasukkan sampel murni yang disini kami gunakan yaitu terdiri dari naftalen, glukosa, beta-naftol, asam benzoate dan maltose. Praktikan melakukan percobaan dengan menggunakan sampel diatas berurutan. Dimana sampel naftalen terlebih dahulu. Saat sampel tersebut dimasukkan kedalam pipa kapiler usahakan sampel tersebut dipadatkan dengan cara bantuan stick yang ditengahnya berlubang seperti pulpen yang sudah kosong isinya. Sampel yang dimasukkan jangan sampai melebihi 2mm tingginya. Setelah sudah padat sampelnya pipa kapiler yang ujungnya terbuka dibakar kembali sampai tertutup. Lalu pipa yang sudah berisi tersebut ditempelkan pada thermometer dan diikat dengan benang pada bagian bawah thermometer. Setelah sudah diikat alat tersebut dimasukkan kedalam Erlenmeyer (yang disini praktikan ganti menjadi kaleng susu dikarenakan untuk mensiasati agar Erlenmeyer tidak pecah, yang disebabkan perpindahan suhu yang drastis) yang sudah diisi 2/3 bagiannya dengan minyak. Gunanya penggunaan minyak pada percobaan ini dikarenakan minyak mempunyai panas yang tinggi sehingga dapat melarutkan sampel dengan cepat. Setelahnya alat yang sudah dipasang tersebut di letakkan pada kaki tiga yang dibawahnya sudah dinyalakan bunsen. Dan dilakukan pemanasan untuk mengetahui titik leleh sampel – sampel yang ingin diketahui titik lelehnya. Saat pemanasan dilakukan kaleng tersebut ditutup dengan gabus sterofoam agar panasnya tidak menyebar. Dan diamati suhu saat sampel tersebut mulai meleleh hingga meleleh seluruhnya. Dan didapatkan hasil suhu saat sampel naftalen mulai meleleh yaitu pada suhu 78. Sedangkan suhu saat sampel meleleh seluruhnya yaitu pada suhu 84. Jadi dapat diketahui bahwa titik didih naftalen berada pada rentang 78 - 84
Lalu pada percobaan berikutnya yang menggunakan sampel glukosa, beta-naftol, asam benzoate dan maltose dilakukan prosedur yang sama dengan penentuan titik leleh naftalen. Pada hasil percobaan menggunakan glukosa didapatkan hasil suhu saat zat mulai meleleh yaitu pada suhu 120 dan saat meleleh semua didapatkan suhu 140. Pada beta-naftol didapatkan suhu zat mulai meleleh adalah pada suhu 105, saat meleleh semua pada suhu 115. Pada percobaan menggunakan sampel asam benzoate diamati pelelehan mulai terjadi pada suhu 98 dan zat meleleh semua pada suhu 150. Sedangkan pada maltose didapatkan suhu zat mulai meleleh pada suhu 105 hingga zat meleleh semua pada suhu 107. Dapat kita lihat bahwa naftalen meleleh pada suhu yang paling kecil. Ini disebabkan naftalena memiliki ikatan konjugasi titik jenuh.
b. Senyawa campuran
Pada percobaan ini dilakukan perlakuan sama seperti perlakuan sampel murni dimana alat dipasang sedemikian rupa. Hanya bedanya sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah senyawa campuran dengan perbandingan tertentu. Adapun sampelnya adalah naftalen:glukosa , glukosa:beta-naftol ,beta naftol:asam benzoate, asam benzoate:maltose, maltose:naftalen. Dengan perbandingan 1:1 , 1:3 ,3:1. Pada campuran naftalen : glukosa 1 : 1 didapatkan suhu awal meleleh yaitu pada suhu 100 dan meleleh semua 148. Pada naftalen : glukosa 1: 3 didapatkan suhu awal meleleh yaitu 148 dan meleleh seluruhnya pada suhu 155. Pada naftalen : glukosa 3:1 didapatkan suhu sampel mulai meleleh 130 dan meleleh semua pada suhu 146.
Pada percobaan sampel glukosa : beta naftol 1: 1 didapatkan suhu awal meleleh yaitu pada suhu 130 dan meleleh semua pada suhu 140. Pada glukosa 1:3 suhu awal melelehnya yaitu pada suhu 146 dan suhu meleleh semua yaitu pada suhu 150. Pada campuran glukosa: beta naftol 3:1 suhu awal melelehnya yaitu 138 dan meleleh seluruhnya pada 149.
Pada percobaan sampel beta – naftol: asam benzoat 1:1 didapatkan suhu awal meleleh pada suhu 88 dan meleleh seluruhnya pada suhu 92. Pada saat beta-naftol:asam benzoate 1:3 didapatkan suhu awal zat meleleh yaitu pada suhu 90 dan suhu zat meleleh semua pada suhu 103. Sedangkan pada beta-naftol: asam benzoate 3:1 didapatkan suhu awal pelelehan yaitu pada suhu 85dan suhu saat zat mengalami pelelehan seluruhnya yaitu pada suhu 120.
Pada sampel asam benzoate : maltose 1:1 didapatkan suhu awal pelelehan yaitu 110 dan suhu saat meleleh seluruhnya yaitu pada suhu 120. Lalu pada asam benzoate : maltose perbandingan 1:3 didapatkan suhu awal meleleh adalah 100dan suhu saat meleleh seluruhnya adalah 155. Sedangkan pada asam benzoate : maltose 3:1 didapatkan suhu awal meleleh yaitu 97 dan suhu meleleh semua 135.
            Pada senyawa campuran maltose : naftalen 1: 1 didapatkan suhu awal pelelehan yaitu 120 dan pelelehan semua 122. Juga pada maltose : naftalen 1: 3 didapatkan suhu awal pelelehan yaitu 110 dan pada pelelehan semua didapat suhu 114. Sedangkan pada maltose : naftalen 3: 1 didapatkan hasil suhu awal pelelehan adalah 113 dan saat zat meleleh semua pada suhu 115
Dari hasil yang praktikan dapatkan dapat diketahui semakin jauh perbandingan zat maka suhunya pun semakin jauh jarak antara meleleh awal dan meleleh semua. Ada beberapa hal yang menjadi factor cepat lambatnya titik leleh yaitu
1.      Ukuran Kristal, semakin kecil ukurannya maka semakin cepat mengalami proses meleleh.
2.      Banyaknya sampel, semakin dikit sampel maka semakin cepat meleleh.
c. Demonstrasi dengan menggunakan MPA

         Pada praktikum ini digunakan alat Melting Point Apparatus ynag berfungsi untuk mengukur suhu dengan hasil yang lebih akurat daripada secara manual. Prinsip kerja alat ini yaitu dalam satu lubang besar terdapat 3 lubang kecil. Dimana pada lubang kecil tersebut dimasukkan pipa kapiler yang sudah berisi sampel tersebut. Pipa kapiler yang akan dimasukkan ke dalam MPA sudah berisi sempel yang akan diuji titik lelehnya dan sempel tersebut tingginya tidak lebih dari 2 mm. Sempel yang digunakan yaitu naftalen, glukosa, beta-naftol, asam benzoate dan maltose. Pipa kapiler tersebut diletakkan pada bagian atas alat tersebut. Dimana ada 3 lubang yang berdiameter 3 mm dan 2 lubang yang lainnya itu dimasukkan pipa kapiler kosong. Kemudian alat tersebut dihubungkan dengan aliran listrik dan pencet tombol on. Lalu saat sempel mulai meleleh dilakukan pengamatan dan catat suhu sempel dari mulai meleleh sampai meleleh semuanya.
            Pada saat percobaan menggunakan sempel senyawa Naftalen didapatkan titik awal meleleh pada suhu 80 dan titik meleleh semua 110. Pada senyawa Glukosa didapatkan titik awal meleleh pada suhu 160,72 dan titik meleleh semua 180. Kemudian Pada senyawa Beta-Naftol didapatkan titik awal meleleh pada suhu 110dan titik meleleh semua 115. Pada senyawa Asam Benzoat didapatkan titik awal meleleh pada suhu 115dan titik meleleh semua 120. Dan pada senyawa Maltosa didapatkan titik awal meleleh pada suhu 90dan titik meleleh semua 102. Pada pemanasan glukosa praktikan mengamati adanya gelembung.



XI. Pertanyaan Pasca Praktikum
1.      Mengapa senyawa murni titik lelehnya lebih kecil daripada senyawa campuran?
2.   Mengapa pada saat pengkalibrasian termometer dengan cara pemanasan termometer harus berada 1 cm di atas permukaan air? sedangkan saat menggunakan es harus menyentuh campuran es dan air?
3.   Mengapa pada penggunaan MPA suhu yang dihasilkan lebih tinggi daripada secara manual?

XII. Manfaat
            Adapun manfaat yang didapat dari praktikum ini adalah mahasiswa atau praktikan dapat mengetahui dan memahami cara untuk pengkalibrasian thermometer dan fungsinya. Mahasiswa juga dapat memahami penetuan titik leleh dan dapat melakukan praktikum titik leleh pada berbagai sampel.

XIII. Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang dapat ditangkap dari praktikum ini adalah:
1.      Prinsip dasar dari penentuan titik leleh dapat diketahui dari zat mulai meleleh hingga zat tersebut meleleh semua atau dari zat padat menjadi cair, atau saat Kristal mencair .
2.      Kalibrasi thermometer dapat dilakukan dengan menggunakan bubuk es dan air dan juga pemanasan air.
3.      Titik leleh senyawa murni dan tidak murni dapat ditentukan dengan perbedaan rentang suhu. Pada senyawa murni rentang suhu awal meleleh sampai meleleh semua tidak jauh, sedangkan senyawa tidak murni biasanya rentang suhunya jauh.
4.      Dalam penentuan titik leleh praktikan menggunakan dua cara yaitu dengan manual dan juga menggunakan alat MPA.

XIV. Daftar Pustaka

Chang,Raymond.2004.Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid 1.Jakarta:Erlangga.
David. 2010. Kimia Analisis Kuantitatif. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Kanginan,Marthen.2007.Fisika Untuk SMA Kelas X.Erlangga:Jakarta.
Syamsurizal.2019.http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/.Dikuti  pada tanggal 07 Februari 2020.
Tim Penuntun Kimia Organik 1.2016.Penuntun Praktikum Kimia Organik 1.Jambi:Universitas Jambi.


XV. Lampiran
pipa kapiler sebagai alat

erlenmeyer sebagai alat

Es batu sebagai bahan

Glukosa sebagai bahan

Kaki tiga sebagai alat

Gelas kimia sebagai alat

Comments

  1. Saya Fitrianty (A1C118032) akan menjawab pertanyaan nomor 3, dimana alasan penggunaan MPA menghasilkan suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan manual yaitu sebenarnya penentuan titik leleh baik secara MPA maupun manual itu harus menghasilkan hasil yang sama, kenapa berbeda? Karena pada saat pengkalibrasian termometer terlebih dahulu yang kurang teliti serta kurang terampilnya praktikan dalam melakukan percobaan.
    Sekian, trims...

    ReplyDelete
  2. Perkenalkan nama saya TRIXIE nim A1C118077, karena ketika dicampur dengan air dan es diaduk secara merata maka didapatkan suhu yang tepat dan konstan, lalu pada air mendidih akan didapatkan suhu termometer yang tepat dapat mendeteksi panas melalui gas tanpa menyentuh permukaan air

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog